Tafsir Surah An-Naba (Bag. 4): Betapa Indahnya Kenikmatan Surga
Terkait tadabbur dan tafsir suraht An-Naba, kita sekarang memasuki bagian yang keempat. Ayat ke 31-36 menjelaskan kepada kita tentang berbagai kenikmatan surga yang Allah janjikan kepada hamba-Nya yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Kemudian ayat ke-37 hingga ayat ke-40 me-recall tentang keadaan manusia di hari kiamat, ketika menunggu pengadilan dari Allah yang Maha bijak.
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya memberikan penjelasan makna potongan surat ini secara umum,
يقول تعالى مخبرًا عن السعداء، وما أعدَّ لهم تعالى من الكرامة والنعيم المقيم
“Allah Ta’ala mengabarkan tentang keadan orang-orang yang beruntung serta kenikmatan agung yang dijanjikan kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 466)
Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan munasabah (keterkaitan) potongan surat ini dengan potongan sebelumnya,
لما ذكر حال المجرمين ذكر مآل المتقين
“Setelah Allah menjelaskan tentang keadaan orang-orang yang durhaka kepada Allah, maka Allah menjelaskan hasil akhir yang didapatkan oleh orang-orang yang bertakwa.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 907)
Seorang hamba harus bisa menyeimbangkan rasa takut dan harapnya kepada Allah. Ada kalanya merasa takut azab, serta ada kalanya merasa berharap dengan kenikmatan surga. Maka Allah menggabungkan dua perasaan ini dalam surah An-Naba.
Potongan surah ini berisi tentang kenikmatan surga yang kekal selamanya, yang membuat seseorang berharap dan optimis untuk menggapainya. Potongan surah ini melanjutkan potongan sebelumnya yang bercerita tentang mengerikannya azab yang disiapkan bagi orang-orang musyrik. Mereka diancam dengan neraka yang kekal selamanya, minuman yang sangat panas menghancurkan usus, serta minuman yang terbuat dari nanah penghuni neraka. Semua ini tentu sangat seram dan membuat hamba merasa takut. Sehingga dengan membaca dan tadabbur secara utuh, seorang hamba akan menyeimbangkan kedua perasaan tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًا
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga).” (QS. An-Naba’: 31)
Orang-orang yang beriman kepada Allah, mengerjakan kebaikan, serta taat kepada Allah, maka Allah berikan kepada mereka kemenangan dengan surga yang berisi segala kenikmatan dan dijauhkan dari neraka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًا
“(Yaitu) kebun-kebun, buah anggur.” (QS. An-Naba’: 32)
Kebun-kebun yang berisi berbagai pepohonan dan tumbuhan. Serta anggur yang sangat enak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًا
“Gadis-gadis indah rupawan yang sebaya.” (QS. An-Naba’: 33)
Penduduk surga memiliki pasangan berupa gadis-gadis muda yang berpenampilan sangat menawan, serta dengan umur yang sebaya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَّكَأْسًا دِهَاقًا
“Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).” (QS. An-Naba’: 34)
Dihidangkan gelas-gelas berisi khamr yang tidak memabukkan, dalam gelas kaca yang indah.
Jika terdapat pertanyaan, “Apakah benar di surga ada minuman khamr? Bukankah dulu khamr dilarang di dunia?” Maka kita jawab bahwa khamr yang ada di surga adalah khamr yang berbeda, tidak memabukkan, tidak menghilangkan akal, dan tidak berbahaya. Allah telah menghilangkan sifat memabukkan dari khamr tersebut, menyisakan rasa khamr yang manis dan lezat bagi yang meminumnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا
“Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta.” (QS. An-Naba’: 35)
Tidak terucap dalam surga kata-kata yang buruk dan tidak berfaidah. Tidak pula ada kebohongan karena surga adalah darus salam, negeri keselamatan dari semua keburukan. Mereka juga tidak pernah berkata bohong karena khamr yang mereka minum tidak menyebabkan mabuk. (Shafwatut Tafasir, 3: 485 dan Tafsir An-Nur, 4472)
Penghuni surga tidaklah merasa iri dan dengki dengan tingkatan surga orang lain. Sehingga mereka tidak berkata buruk tentang pemberian Allah tersebut, tidak pula “nyinyir” kepada tetangganya di surga. Semua penghuni surga tersenyum sumringah, mengucapkan salam, dan kalimat-kalimat yang indah ketika saling bertemu.
Hamka memberikan tafsir yang sangat indah berkaitan ayat 32-35 ini. Beliau mengatakan bahwa tepat sekali ayat 35 ini menjadi penutup dari ayat 32 sampai 34, yang menerangkan bahwa di surga ada taman-taman indah yang dikelilingi para bidadari wanita gadis jelita yang tubuhnya sangat indah, datang kepada penghuninya dengan membawa gelas penuh khamr yang tidak memabukkan. Semua penghuninya muda dengan usia yang berdekatan, karena kenikmatan seperti ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang fisiknya masih prima dalam usia segar.
Luar biasanya lagi, tidak ada satupun penghuni surga lain yang protes dan mengingkari kenikmatan ini (ayat 35). Semua terlarut dalam kebahagiaan yang sama, semua penghuni surga fokus dengan kenikmatannya sendiri, tidak hasad dengan kenikmatan orang lain. Oleh karena itu, tidak akan ada perkataan sia-sia dan dusta.
Sekarang bayangkan kalau ada tempat seperti ini di dunia, apa yang terjadi? Pasti di sanalah bersarang berbagai nafsu seksual yang memabukkan. Setelahnya, akan terdengar berbagai ucapan dan makian orang-orang sekitar karena melakukan suatu tidakan yang tidak senonoh dan tidak bermoral. Lebih jauh lagi, tempat seperti ini hanya akan didapatkan seseorang yang pandai berdusta dan menipu untuk mendapatkan kesenangan dunia yang memabukkan. (Tafsir Al-Azhar, 7856)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًا
“(Hal itu) sebagai balasan (dan) pemberian yang banyak dari Tuhanmu.” (QS. An-Naba’: 36)
Allah memberikan balasan kebaikan yang sangat besar bagi hamba-Nya yang taat. Balasan dalam bentuk karunia dan ihsan atas amal yang telah dilakukan di dunia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًا
“(Yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya.” (QS. An-Naba’: 37)
Balasan surga yang demikian indah tersebut adalah dari Allah Ar-Rahman, Rabb yang rahmat-Nya melimpah, tidak pernah habis, dan melingkupi segala sesuatu.
Setelah membahas surga dan neraka, Allah kembali mengulang pembicaraan tentang hari kiamat, sebuah hari yang sangat mengerikan. Hari tersebut sangat mengerikan dan menakutkan, sehingga tidak ada satupun makhluk yang berani berbicara memohon kepada Allah untuk diringankan kesulitan dan azab pada hari itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
“Pada hari ketika Rūḥ dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.” (QS. An-Naba’: 38)
Pada hari itu, Allah tunjukkan kebesaran-Nya kepada semua makhluk, dengan Allah perlihatkan malaikat yang jumlahnya sangat banyak, yang tidak kita ketahui berapa jumlahnya. Mereka adalah bagian dari kerajaan Allah yang sangat luas.
Kata ar-ruh pada ayat ini memiliki dua tafsiran. Tafsiran pertama mengatakan bahwa ar-ruh di sini maksudnya adalah malaikat Jibril. Beliau diberikan gelar ar-ruh karena bertugas membawa wahyu firman Allah, ruh bagi kehidupan jiwa. Tafsiran kedua mengatakan bahwa ar-ruh di sini adalah para malaikat khusus yang memiliki tugas mengatur ruh para makhluk.
Para malaikat berbaris dengan rapi, tenang, tanpa ada cela sedikitpun. Seluruh makhluk pada hari itu terdiam, tidak ada yang berbicara kecuali yang Allah berikan izin untuk berbicara. Demikian pula syafaat, tidak ada yang memberikan syafaat kecuali telah mendapat izin Allah. Menunjukkan bahwa sejatinya syafaat adalah hak Allah. Kita meminta syafaat hanya dari Allah, bukan dari makhluk apapun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا
“Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).” (QS. An-Naba’: 39)
Hari kiamat juga disebut yaumul haq, hari yang pasti terjadi, kebenaran atas adanya hari itu adalah kenyataan. Maka, jangan sampai kita ragu sedikitpun dengan adanya hari itu, karena sedikit keraguan saja akan menghancurkan iman kita. Siapa saja yang telah yakin adanya hari itu, seyogyanya dia mempersiapkan diri. Persiapan menempuh perjalanan yang amat jauh. Bukankah semakin jauh perjalanan, semakin banyak pula bekal kita?
Bekal pada hari itu adalah amal saleh dan ketaatan. Amal yang akan menemani kita dari kubur, sampai membela kita di hadapan Allah. Maka, ayo beramal, karena perjalanan masih panjang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.” (QS. An-Naba’: 40)
Wahai masyarakat Quraisy yang mengingkari adanya hari kiamat, Allah telah mengingatkan kalian tentang hari tersebut. Memperingatkan kalian dengan mengutus Nabi-Nya yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Mengapa azab hari kiamat bagi orang-orang kafir dan musyrik disebut sebagai azab yang dekat, padahal kita tidak mengetahui, kapan kiamat itu datang?
Penjelasannya adalah, dalam konteks pembicaraan orang Arab, semua hal yang pasti datangnya -entah esok hari atau 1000 tahun lagi- dianggap sesuatu yang dekat. Mengapa? Karena cepat atau lambat pasti datang.
Pada hari itu, manusia melihat apa yang telah dikerjakan, mereka melihat hal tersebut dari lembaran catatan amal mereka. Lebih jauh lagi, mereka melihat dan merasakan hasil amal tersebut di surga atau neraka. Ketika telah diputuskan bahwa orang-orang kafir akan kekal di neraka, maka mereka berangan-angan seandainya dulu mereka tidak pernah diciptakan sama sekali.
Orang kafir melihat hewan-hewan pada hari kiamat di-qishsosh satu sama lain, hewan yang “nakal” dan melukai temannya akan dibalas setimpal oleh Allah. Setelah semua balasan pada sesama hewan tersebut impas, maka Allah kemudian menjadikan mereka debu, kisah kehidupan para hewan selesai sampai di situ saja.
Adapun orang-orang kafir harus mendekam disiksa di neraka selamanya; bahkan semakin hari berjalan, siksanya semakin sakit dan mengerikan. Sehingga mereka berangan-angan seandainya kami jadi hewan saja dulunya, sehingga hanya akan jadi debu dan tidak disiksa di neraka.
Demikian tafsir ringkas yang dapat kami sampaikan kepada para pembaca sekalian. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.
[Selesai]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. (2000). Tafsir Al-Qur’an An-Nur. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar ihya At-Turats.
Hamka, Abdul Malik Karim Amrullah. (1982). Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.
Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.
Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.
Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shafwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.
Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.
Catatan tambahan: semua referensi diambil dari web https://app.turath.io/
Artikel asli: https://muslim.or.id/112287-tafsir-surah-an-naba-bag-4.html